Perjalanan Hidup Megawati, Dari Katolik Menjadi Islam

Hiasan dinding bertuliskan kalimat Tiada Tuhan Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang banyak terpampang di tokostationary di Kota Bandar Lampung, menarik perhatian seorang gadis cilik. Saking seringnya melihat tulisan tersebut, bocah perempuan bernama lengkap Luzie Megawati ini mulai bertanya-tanya.

”Selama itu, saya belajar bahwa Tuhan Maha Esa. Lalu, mengapa bisa ada kata-kata demikian?” kata perempuan yang akrab disapa Anis ini kepada Republika.

Saat itu, ungkap Anis, dirinya baru duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar (SD). Dalam logika kanak-kanak seumur itu, diakui, masih agak sulit baginya bisa memahami beragam cara melukiskan atau menyebut Tuhan dari agama Katolik yang dianutnya saat itu dan dari tradisi keluarganya yang dominan Kong Hu Cu.

Perempuan kelahiran 14 Januari 1972 ini memang berasal dari keluarga campuran berdarah Tionghoa dan nenek dari pihak ibu yang asli Jawa. Karena itu, tak mengherankan jika kehidupan agama keluarganya cenderung didominasi tradisi Kong Hu Cu. Untuk urusan keyakinan, sejak kanak-kanak, ia memeluk Katolik.

”Tapi, Katoliknya tidak fanatik karena bercampur dengan tradisi keluarga. Saya ke gereja, ke kelenteng, ke wihara, dan juga terbiasa melihat tradisi Jawa kejawen, seperti bakar kemenyan dari pihak nenek.”

Dari seringnya melihat tulisan itu, kemudian mulai terjadi gesekan dalam diri Anis, yang pada akhirnya menimbulkan ketertarikan untuk mempelajari hal tersebut dari sumbernya. Sejak saat itu, ia mulai mencuri-curi waktu berkunjung ke toko buku swalayan yang baru buka di kota tempat tinggalnya, hanya sekadar untuk membaca buku-buku mengenai keislaman.

Buku mengenai Islam yang pertama kali dibacanya berjudul 30 Kisah Teladan. Dari sekian banyak kisah yang terdapat dalam buku tersebut, kisah mengenai Khalifah Umar bin Khattab (khalifah kedua) yang menarik perhatiannya.

Dalam buku tersebut, diceritakan Umar yang merupakan sahabat Rasulullah saw rela membawakan karung gandum untuk rakyatnya yang miskin. Kisah itu, kata dia, sangat menyentuh rasa kemanusiaannya dan sampai hari ini masih ia suka.

Buku lain yang menarik perhatiannya kala itu adalah buku Seratus Tokoh karya Michael H Hart yang menempatkan sosok Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallamsebagai tokoh nomor satu.

”Yang ada dalam kepala saya saat itu sederhana, kalau sahabatnya saja begitu, bagaimana nabinya? Hingga semua itulah yang menggenapkan ketertarikan saya pada Islam,”ungkap ibu dua orang anak ini.

Kendati memiliki ketertarikan terhadap Islam, Anis mengaku saat itu belum serius mempelajari Islam.

”Saya memang tertarik saja dan mungkin karena saat itu usia masih sangat dini. Maka itu, tidak terlalu saya pikirkan. Saya berkembang sebagaimana remaja pada umumnya saat itu, yang tidak terlalu mendahulukan soal-soal agama,” paparnya.

Ketika naik kelas dua SMA, bersama sepupunya, Anis memutuskan melanjutkan sekolah ke Bandung. Di Kota Kembang ini, ia mendaftar di SMA Negeri 5, sementara sepupunya memutuskan bersekolah di SMP Katolik.

Kepindahannya ke Bandung didorong cita-citanya untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Di sana, ia menyewa sebuah kamar di rumah seorang pemeluk Kristen.

Ketika duduk di bangku kelas 3 SMA, ia bermimpi aneh. Dalam mimpi itu, istri Toto Prima Yulianto ini tengah membaca ayat.

”Seperti bunyi orang mengaji, yang saya tidak tahu persis apakah itu. Tiba-tiba sekeliling saya menjadi terang sekali. Tidak ada kesan istimewa dari mimpi itu karena rasanya seperti orang ‘ketindihan’ biasa,” tuturnya.

Setelah mimpi itu, keesokan paginya Anis memutuskan menceritakannya kepada teman sekolahnya. Namun, kalimat pertama yang terlontar dari mulutnya bukan mengenai mimpi yang dialaminya, melainkan keinginannya untuk masuk Islam. ”Saya ingin masuk Islam,”ujarnya.

Sontak, kalimat tersebut membuat temannya yang seorang Muslim kaget. Bahkan, sang teman menyebutnya gila saat itu. Kepada temannya, Anis minta dicarikan jalan masuk Islam.

Pilihan yang diberikan kepadanya ada dua: Pertama, ia disarankan masuk Islam melalui pengajian seorang ustaz di Kota Bandung. Kedua, di Masjid Salman ITB. ”Saya pilih yang kedua, di ITB,” ujarnya.

Akhirnya, setelah ditanya kesungguhan dan disepakati waktunya, 16 April 1990, yang juga bertepatan dengan 20 Ramadhan 1410 H, bertempat di Masjid Salman ITB serta dibimbing dan disaksikan pengurus masjid, beberapa teman sekolah, dan seorang teman dari kampung halaman yang juga menuntut ilmu di Bandung, Anis memutuskan masuk Islam.

”Semua terjadi begitu saja, di luar kendali saya. Setelah pengucapan ikrar, dibacakan doa untuk keselamatan dan kemampuan saya menjalani hidup sebagai warga baru dari sebuah agama,”ungkapnya haru.

”Saya seperti tersadar, saya baru saja membuat masalah yang besar dalam hidup saya. Rasanya lemas, tapi harus saya hadapi segala yang mungkin akan terjadi,”papar Anis mengenang momen bersejarah dalam hidupnya itu.

Semula, Anis menginginkan keputusannya memeluk Islam, tidak diketahui keluarga. Secara usia, ia merasa belum siap menghadapi banyak masalah dan terlebih lagi ia masih ingin bersekolah. Namun, apa mau dikata, kabar ke-Islamannya sampai juga ke telinga kedua orang tuanya.

Reaksinya, sudah bisa diduga. Keluarganya marah besar. Oleh keluarga, Anis dicap sebagai anak durhaka, bukan lagi bagian dari keluarga.

Parahnya, ia diboikot secara ekonomi dan tidak saling bertegur sapa dengannya selama lima tahun. ”Saya sungguh tidak memperkirakan pindah agama akan menuai badai begitu besarnya,” ungkapnya.

Dengan tegar, ia menghadapi semua itu. ”Saya harus kuat dan saya ingin menunjukkan pilihan saya sudah benar,” ujarnya menegaskan. Sejak saat itu, kehidupan Anis berubah. Ia kehilangan semua fasilitas yang biasa dinikmatinya dan masa-masa indah anak seusianya.

Dalam pandangan keluarganya, Islam adalah agama yang identik dengan masalah: suka nikah dan suka perang. Karena itu, jika sudah dihadapkan kepada berbagai macam stigma negatif, ia kerap merasa seperti berada di sebuah persimpangan.

Namun, setelah mempelajari Islam, gambaran itu laksana pungguk merindukan bulan atau jauh api dari panggang. Semua tak terbukti. Islam justru mengajarkan umatnya menjadi manusia yang berakhlak mulia.

Pengalaman Pertama sebagai Muslimah

Sebagai seorang mualaf, Anis harus banyak belajar Islam, termasuk shalat. ”Awalnya, canggung juga karena banyak yang salah dalam hal bacaan shalat. Bahkan, pernah tertidur dan mengantuk saat shalat. Juga, basah kuyup saat wudhu,” kenangnya.

Bersamaan dengan keislamannya pada bulan Ramadhan, Anis pun belajar puasa. ”Bibir saya kering dan banyak berliur karena kehausan,”ungkapnya.

Pengalaman lainnya, tahun pertamanya sebagai seorang mualaf yang hingga kini masih diingatnya adalah ia menjalankan shalat di rumah orang tuanya.

Saat itu, ia melaksanakan shalat dengan arah kiblat yang bersamaan dengan menghadap meja dupa. ”Luar biasa rasanya membawakan hati, pikiran, dan perasaan di suasana demikian.”

Dari sekian banyak pengalaman pada masa awal keislamannya ini, menurut Anis, keputusannya mengenakan jilbab adalah yang paling berkesan. Ketika memutuskan berjilbab Agustus 1990, ia menuai kecaman keras dari orang tuanya, terutama sang ibu.

Jilbab yang ia kenakan ditarik paksa sang ibu. Saat itu, ibunda Anis mengatakan, ”Karena tanpa jilbab pun, sejak kecil kamu sudah diajarkan sopan santun dalam berpakaian.”

http://www.kisahmuallaf.com/luzie-megawati-terpikat-keteladanan-umar-bin-khattab/

My Blog List