Tanda Tanda Kegagalan Dalam Hubungan Ranjang Pasutri

Hubungan Suami Istri di Ranjang sebagai tonggak kebahagiaan hidup sudah menjadi keyakinan lazim yang sulit dipungkiri. Karena berapapun banyak harta, dan betapapun tingginya pangkat dan jabatan, ketika hubungan di ranjang hanya menjadi adegan menyeramkan atau setidaknya sangat membosankan dalam kehidupan seseorang, pilar keceriaan hidupnya pun memudar. Ada sesuatu yang hilang, dapat dirasakan sedemikian kentalnya, meski kadang sulit diungkapkan.

Jangan menganggap bahwa fenomena itu hanya peristiwa yang dialami oleh sedikit orang. Realitasnya, banyak sekali pasutri, dari kalangan non agamis, hingga yang betul-betul relijius, bahkan di kalangan relijius yang sudah tertata pola pikirnya dengan landasan Al-Quran dan al-Hadits dengan pemahaman yang benar, yang ternyata mengalami kegagalan dunia ranjang dalam hidupnya. Akibat lahiriahnya sudah tampak pada kondisi biologis tubuh terutama wajah pada masing-masing pasutri yang terlihat jauh lebih tua dari seharusnya. Meski banyak yang berupaya menutup-nutupi realitas itu,- karena dianggap akan sangat memalukan-, tapi realitas itu menjadi bara dalam sekam yang menghanguskan diri sendiri.



Jangan pula mengatakan bahwa kegagalan hubungan intim dalam rumah tangga sama sekali tidak berpengaruh pada sisi kebahagiaan pasutri secara gamblang. Karena bagaimana mungkin, sisi yang menjadi faktor disyariatkannya nikah bagi pemuda, menjadi tidak memiliki pengaruh apa-apa bagi kebahagiaan hidup mereka?

Oleh sebab itu, kegagalan kehidupan ranjang seringkali menimbulkan berbagai akibat yang tidak terduga dan sama sekali tidak diinginkan oleh siapapun.

Makna Kegagalan Aktivitas Ranjang Pasutri

Dalam hubungan suami istri menurut kaca mata Islam, ada beberapa istilah yang mirip namun kadang berlainan.

Pertama, orgasme, yang mewakili puncak dari perhelatan bercin-ta, saat pasutri merasakan sebuah kenikmatan luar biasa di level puncak, lalu diakhiri dengan rasa lelah luar biasa.

Kedua, kepuasan saat bercin-ta. Biasanya, orgasme adalah media utama yang dikejar demi kepuasan batin, tapi kepuasan bercin-ta dapat dicapai tanpa orgasme, dan orgasme sendiri juga tidak selamanya berujung pada kepuasan saat bercin-ta. Banyak orang yang mengalami orgasme setiap berhubungan suami istri, tapi tak merasakan kepuasan, karena ada nuansa batin seperti sensasi, hiburan dan kenikmatan yang dia anggap belum mencapai level yang ia inginkan.

Ketiga, kenyamanan saat bercin-ta. Ini mungkin sedikit rumit, dan bukan istilah yang lazim. Namun dalam fikih Islam, ini termasuk dalam kategori qana’ah, yakni rasa puas yang hebat di dalam hati akibat gemuruh rasa syukur sehingga mengabaikan segala kekurangan yang ada. Orang yang mengalami qana’ah berarti merasakan kepuasan, tapi bukan berarti merasa puas. Karena orang yang merasa puas akan enggan menggapai pencapaian yang lebih baik. Sementara orang yang merasakan kepuasan berarti merasa senang dan nyaman dengan segala yang didapat, tapi selalu mengupayakan yang lebih baik di masa yang akan datang. Itulah pencapaian ideal dalam hubungan suami istri di ranjang menurut Islam.

— Majalah Sakinah –

My Blog List